Kamis, 05 Mei 2011

Brainwashing = Hipnosis. Benarkah?


Begitu marak pemberitaan tetang pencucian otak (brainwashing) yang sedang terjadi di Indonesia. Pelaku cuci otak umumnya merekrut mahasiswa atau usia pelajar. Menyeramkan memang, tiba-tiba diculik oleh oknum-oknum yang menyamar, kemudian dicekoki dengan paham-paham baru yang sesungguhnya jauh dari konsep ‘benar’. Besar dugaan Muhammad Syarif (pelaku bom bunuh diri Cirebon) juga merupakan salah satu korban cuci otak. Perilakunya yang tiba-tiba anarkis (ungkap sang ayah), menghilang untuk beberapa hari, kemudian kembali dengan keadaan yang sudah tidak bernyawa. Wow..

Tapi banyak yang mengaitkan pencucian otak sama dengan hipnosis. Benarkah? Ketika kita membandingkan hipnosis dengan pencucian otak, dua hal ini terlihat berbeda.
Apa itu Hipnosis?
·         Hipnosis membutuhkan persetujuan dari sang subjek (pihak yang akan dihipnotis). Jika subjek tidak bersedia maka sesi hipnosis pun tidak akan bisa terjadi.
·         Hipnosis memberikan/menghasilkan keadaan yang rileks dan nyaman.
·         Hipnosis seringkali membuat subjek merasa segar sesaat setelah proses hipnosis selesai.
·   Dapat meningkatkan hubungan yang lebih baik antara kita dan komunitas dengan hadirnya kita sebagai pribadi yang lebih baru melalui proses hipnoterapi. (Hipnoterapi adalah salah satu aplikasi hipnosis, yang menggunakan hipnosis untuk menghilangkan masalah emosional, phobia, dsb.)

Lalu, bagaimana dengan cuci otak?
·          Cuci otak dilakukan tanpa persetujuan.
·         Dalam pelaksanaannya, korban mengalami intimidasi (misal: kelaparan dan kurang tidur). Dan tentu saja penyebab diatas tidak akan memberikan hasil yang lebih baik.
·          Cuci otak juga mengisolasi korban dari lingkungan sekitar dan komunitasnya.
     (tambahan: cuci otak lebih banyak merekrut orang-orang introvert atau orang-orang yang tertutup dan lebih sering terkonsntrasi pada dirinya sendiri).
           
Di lain pihak, sumber lain mengatakan bahwa cuci otak hampir sama dengan hipnosis. Hanya berbeda pada teknik pelaksanaan serta efek cuci otak yang bertahan lebih lama. Bingung? Saya juga (haha). Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari segala yang terjadi disekitar kita. Dan yang lebih penting adalah jangan jadikan diri kita sebagai korban pencucian otak baru. Serem.. Waspadalah!! :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar