Jumat, 06 April 2012

Pentingnya Pendidikan Anak Pra-Sekolah

Sulistia Putri (11-017)
Novika Susi Lestari (11-025)
Gustrispa Naomi (11-035)


Tugas Perkembangan Pada Masa Usia Pra Sekolah 
Havighurst (1961) mengartikan tugas perkembangan merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas berikutnya, sementara apabila gagal maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya.
Pendidikan usia Pra Sekolah –atau biasa disebut pendidikan anak usia dini- tenyata memberikan dampak positif untuk perkembangan seorang anak yang meliputi aspek sosial, emosi, kognitif dan fisik anak. Berikut uraiannya:

1.      Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial, dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orang tua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial, atau norma- norma kehidupan bermasyarakat.
Usia prasekolah memberi kesempatan luas kepada anak untuk mengembangkan keterampilan sosialnya. Di usia inilah ia mulai melihat dunia lain di luar dunia rumah bersama ayah-ibu. Kemampuan bersosialisasi harus terus diasah. Sebab, seberapa jauh anak bisa meniti kesuksesannya, amat ditentukan oleh banyaknya relasi yang sudah dijalin. Banyaknya teman juga membuat anak tidak gampang stres karena ia bisa lebih leluasa memutuskan kepada siapa akan curhat.

Ciri Sosial Ciri Anak Prasekolah atau TK
a) Umumnya anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat, tetapi sahabat ini cepat berganti, mereka umumnya dapat cepat menyesuaikan diri secara sosial, mereka mau bermain dengan teman. Sahabat yang dipilih biasanya yang sama jenis kelaminnya, tetapi kemudian berkembang sahabat dari jenis kelamin yang berbeda.
b) Kelompok bermain cenderung kecil dan tidak terorganisasi secara baik, oleh karena kelompok tersebut cepat berganti-ganti.
c) Anak lebih mudah seringkali bermain bersebelahan dengan anak yang lebih besar. Parten (1932) dalam social participation among preschool children melalui pengamatannya terhadap anak yang bermain bebas di sekolah, dapat membedakan beberapa tingkah laku sosial:
a. Tingkah laku unoccupied. Anak tidak bermain dengan sesungguhnya. Ia mungkin berdiri di sekitar anak lain dan memandang temannya tanpa melakukan kegiatan apapun.
b. Bermain soliter. Anak bermain sendiri dengan menggunakan alat permainan, berbeda dari apa yang dimainkan oleh teman yang berada di dekatnya, mereka berusaha untuk tidak saling berbicara.
c. Tingkah laku onlooker anak menghasilkan tingkah laku dengan mengamati. Kadang memberi komentar tentang apa yang dimainkan anak lain, tetapi tidak berusaha untuk bermain bersama.
d. Bermain pararel. Anak-anak bermain dengan saling berdekatan, tetapi tidak sepenuhnya bermain bersama dengan anak lain, mereka menggunakan alat mainan yang sama, berdekatan tetapi dengan cara tidak saling bergantung.
e. Bermain asosiatif. Anak bermain dengan anak lain tanpa organisasi. Tidak ada peran tertentu, masing-masing anak bermain dengan caranya sendiri-sendiri.
f. Bermain Kooperatif. Anak bermain dalam kelompok di mana ada organisasi. Ada pemimpinannya, masing-masing anak melakukan kegiatan bermain dalam kegiatan, misalnya main toko-tokoan, atau perang-perangan.
2.      Perkembangan Emosional
Salah satu tolak ukur kepribadian yang baik adalah kematangan emosi. Semakin matang emosi seseorang, akan kian stabil pula kepribadiannya. Untuk anak usia prasekolah, kemampuan mengekspresikan diri bisa dimulai dengan mengajari anak mengungkapkan emosinya.
Jadi, anak prasekolah dapat diajarkan bersikap asertif, yaitu sikap untuk menjaga hak-haknya tanpa harus merugikan orang lain. Saat mainannya direbut, kondisikan agar anak melakukan pembelaan. Entah dengan ucapan, semisal, “Itu mainan saya. Ayo kembalikan!”, atau dengan mengambil kembali mainan tersebut tanpa membahayakan siapa pun.
Ciri Emosional Pada Anak Prasekolah :
a) Anak TK cenderung mengekspreseikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut.
b) Iri hati pada anak prasekolah sering terjadi, mereka seringkali memperebutkan perhatian guru.(Ananda 2010).

3.      Perkembangan Kognitif
1.        Pada umur ini, anak-anak biasanya sudah pintar dalam merangkai kata-kata untuk dapat mengemukakan pendapatnya ataupun hanya berbicara karena dia menginginkannya. Dianjurkan bagi para orangtua ataupun pengasuh anak untuk mendengarakan dan mencoba untuk mengerti apa saja yang ingin dia tanyakan di publik.
2.        Integrasi, minat , kasih sayang, dan juga kesempatan merupakan interaksi yang harus sering dilakukan oleh institunsi agar dapat mengembangkan kompetensi anak. Interaksi yang dimaksud adalah kegiatan secara langsung yang divariasikan secara baik dan benar.
3.        Mendorong anak untuk mulai mengembangkan soft-skills tersebut dan juga mendorong anak yang manja ataupun suka bergantung pada orang lain untuk dapat memahami apa itu kemandirian
4.        Anak pada usia ini telah dapat berpikir secara logis, kritis, dan kreatif mengenai lingkungan alam, sosial, memberi alasan, banyak berperan dalam kehidupan sosialnya dan mampu menghargai keragaman sosial budaya.

4.      Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik bertujuan agar anak mampu mengontrol gerakan kasar secara sadar dan untuk keseimbangan, mengontrol gerakan halus. Proses perkembangan fisik merupakan proses pematangan yang terjadi secara teratur, yaitu kemampuan keterampilan tertentu dan umumnya terjadi sebelum mencapai level lainnya. Sebagai contoh, kebanyakan bayi belajar merangkak sebelum mereka belajar berjalan. Namun, juga penting untuk menyadari bahwa tingkatan puncak dari perkembangan fisik ini perkembangannya dapat bervariasi. Beberapa anak belajar berjalan lebih cepat dari teman sebaya mereka yang sama usia, sementara yang lain mungkin diperlukan waktu sedikit lebih lama.
Sebagai seorang anak tumbuh, sistem saraf-nya menjadi lebih matang. Karena ini terjadi, anak menjadi lebih dan lebih mampu melakukan tindakan yang semakin kompleks. Masa di mana keterampilan motorik muncul kadang-kadang merupakan kekhawatiran bagi orang tua maupun pengasuh yang sering khawatir apakah anak-anak mereka mengembangkan keterampilan-keterampilannya pada level normal.
Ada dua jenis keterampilan motorik:
  • Bruto (atau besar) keterampilan motorik melibatkan otot-otot yang lebih besar seperti lengan dan kaki. Tindakan yang membutuhkan keterampilan motorik kasar meliputi berjalan, berlari, keseimbangan dan koordinasi. 
  • Fine (atau kecil) keterampilan motorik melibatkan otot kecil di jari, jari kaki, mata dan daerah lainnya. Tindakan yang memerlukan keterampilan motorik halus cenderung lebih rumit, seperti menggambar, menulis, memegang benda, melempar, melambai dan penangkapan.
Dengan demikian pendidikan anak pada usia dini sangat penting sebagai penunjang untuk tumbuh kembang fisik serta motorisnya yang lebih baik untuk perkembangan fisiknya dimasa-masa berikutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar