Jumat, 16 Maret 2012

Classical Conditioning

Berhubung Classical Conditioning adalah salah satu topik di mata kuliah psikologi umum II, dan saya juga hobi cerita disini, jadilah dengan brutal saya mencoba untuk menuangkan apa yang ada dipikiran saya tentang Classical Conditioning. Selamat membaca dan semoga bermanfaat :D

Apa itu Classical Conditioning? “Classical Conditioning merupakan bentuk pembelajaran dimana sebelumnya rangsangan netral dipasangkan dengan unconditioned stimulus (UCS) untuk menghasilkan conditioned  response (CR) yang identik dengan unconditioned response (UCR).” Bingung? Saya juga. Ahahaha..

Memang benar, awalnya saya sempat bingung dengan definisi ini, lumayan ribet soalnya. Tetapi setelah dipahami lebih lanjut, ini tidaklah sesulit yang dibayangkan. Salah satu pelopor teori ini adalah Ivan Pavlov yang menggunakan anjing sebagai objek penelitiannya:



Sudah mulai dapet gambaran? Pasti sudah ^.^
Nah, untuk lebih memperjelas lagi, saya akan menghadirkan contoh lagi yang saya alami sendiri tentang Classical Conditioning. Cekidot!

Salah satu peristiwa yang pernah saya alami terkait dengan Classical Conditioning terjadi ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Pada masa itu yang saya rasakan sepulang sekolah adalah rasa senang/bahagia. Dan bisa saya pastikan itu bukan rasa bahagia karena kegiatan sekolah pada hari itu telah selesai, tetapi rasa bahagia yang lain. Mengapa saya bisa seperti itu?
Berikut adalah peristiwa Classical Conditioning dengan komponen sebagai berikut:
Unconditionined Stimulus (UCS)   = Dijemput orang tua
Unconditionied Respons (UCR      = Rasa Bahagia
Conditionied Stimulus (CS)             = Pulang Sekolah
Conditionied Respons (CR)            = Rasa Bahagia

(UCS) Dijemput orang tua à (UCR) Rasa Bahagia
(UCS) Dijemput orang tua + (CS) Pulang Sekolah à (UCR) Rasa Bahagia
(CS) Pulang Sekolah à (CR) Rasa Bahagia

Dengan kata lain, tiap kali pulang sekolah saya selalu merasa bahagia karena orang tua saya (ayah, atau ibu atau keduanya) akan menjemput saya pulang dari sekolah. Karena itu juga merupakan salah satu bentuk perhatian dan kasih saya orang tua terhadap anaknya. Rasa bahagia yang saya miliki saat itu juga dilandasi karena adanya rasa aman jika dijemput langsung oleh orang tua.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, orangtua mencoba menumbuhkan rasa kemandirian di dalam diri saya, serta kemampuan untuk menjaga diri saya sendiri. Sehingga mereka mulai mengurangi frekuensi menjemput saya sepulang sekolah. Dan ketika stimulus ini perlahan menghilang, itu juga berdampak kepada hilangnya rasa bahagia (CR) dalam diri saya sepulang sekolah.

Sabtu, 10 Maret 2012

Manfaat E-mail dan Blog serta Fenomena Pendidikan


Bagaimana pandangan dan penilaian kelompok Anda sehubungan dengan kewajiban setiap mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Psikologi Pendidikan 3 sks T.A 2011/2012  harus memiliki email dan blog ditinjau dari uraian Psikologi Pendidikan dan fenomena pendidikan di Indonesia, Medan khususnya?


Penjelasan: Kami sebagai mahasiswa yang mengambil mata kuliah Psikologi Pendidikan diwajibkan pada semester ini untuk memiliki blog dengan email akun gmail, berdasarkan hasil pengamatan kelompok kami, penggunaan blog sebagai media pembelajaran mendatangkan dampak yang positiif. Bila ditinjau dari teori atau pandangan yang dikemukakan oleh tokoh Psikologi Pedidikan hal ini sngat berhubungan:
 
1.       William James
Pandangannya: “Mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi diatas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memerluas cakrawala pemiikiran si anak.”
Jika dihubungkan dengan pandangan James ini. Ketika mahasiswa diwajibkan untuk memiliki blog (yang mungkin belum pernah dilakukan sebelumnya dan menjadi pengalaman baru bagi mahasiswa) maka hal ini bisa mejadi salah satu cara bagi mahasiswa untuk memperluas pemikiran dengan mencari sumber informasi yang dapat membantunya untuk membuat serta mengembangkan blog tersebut. Jadi dapat dengan jelas terlihat manfaat dari blog sebagai sesuatu yang diwajibkan dalam mata kuliah Psikologi Pendidikan ini.

2.      John Dewey
1)      Pendapatnya: “Anak adalah pembelajar aktif.”
Ketika ditugaskan untuk membuat blog dan mempostingnya,  menunjukkan sisi aktif dari mahasiswa tersebut. Mahasiswa bukann lagi hanya sebagai pelajar pasif yang duduk diam dan menerima materi dari dosen, tetapi mahasiswa sudah dituntut untuk berpartisiasi aktif dalam proses belajar mengajar meskipun melalui dunia maya.
2)   Pendapatnya: “Pendidikan seharusnya difokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk berdaptasi dengan lingkungannya.”
Ketika ditugaskan membuat blog dan mengelolanya, mahasiswa tidak hanya mendapat pelajaran akademik saja, tetapi juga diberikan keleluasan untuk mengembangkan kreatiftasnya, dan melakukan adaptasi dalam penggunaan blog serta menjalin relasi dengan pengguna blog (blogger) lain, yang tidak lain adalah mahasiswa dan dosen pengampu.

3.      E. L. Thorndike
Pendapatnya: “Law of effect = Konskekuensi dari perilaku menentukan apakah periaku tersebut akan dilakukan lagi di kemudian hari.”
Dalam proses pembelajaran menggunakan media blog, ketika mahasiswa mendapat feed back dari dosen pengampu (berupa komentar atau balasan via email), mahasiswa tersebut merasa nyaman dan diperhatikan sang dosen, besar kemungkinan di kemudian hari mahasiswa akan menuangkan kreatifitasnya yang lebih lagi agar kembali diperhatikan oleh sang dosen.



FENOMENA PENDIDIKAN
Banyak fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia, fenomena-fenomena tersebut sudah lazim terjadi bahkan dapat dengan mudah kita jumpai di sekitar kita. Salah satu fenomena pendidikan yang terjadi di Indonesia adalah adanya kesenjangan sosial yang mengakibatkan terjadinya perbedaan kualitas pendidikan yang diperoleh. Kehidupan di perkotaan cenderung memiliki kualitas pendidikan yang jauh lebih baik dibandingkan di pedesaan. Pendidikan di perkotaan jauh lebih canggih dan lebih modern dibandingkan di pedesaan yang bahkan terkadang memiliki bangunan sekolah yang sudah tidak layak pakai. Tidak hanya itu, sekolah yang ada di pedesaan terkadang memiliki jarak yang cukup jauh dari pemukiman warga yang menyebabkan anak-anak yang ingin ke sekolah harus berjalan kaki  berjam-jam bahkan harus menyeberangi sungai dengan jembatan yang hampir ambruk. Seperti  yang baru-baru ini diberitakan bahwa di daerah Banten anak-anak menyeberangi jembatan yang terputus demi berangkat ke sekolah, tentu saja hal ini membahayakan diri mereka sendiri. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kualitas dan fasilitas pendidikan yang disediakan di perkotaan. Anak-anak di perkotaan dapat dengan mudah berangkat ke sekolah tanpa harus menyebrangi sungai terlebih dahulu, selain itu sekolah mereka sudah berstandar internsional dengan kualitas staf pegajar yang jauh lebih baik dibandingkan staf pengajar di pedesaan. Hal ini seharusnya sudah dapat diperbaiki oleh pemerintah dengan membentuk suatu sistem pendidikan yang baru yang dapat memberikan kualitas dan fasilitas pendidikan yang merata di berbagai daerah di Indonesia karena setiap anak memiliki hak yang sama dalam dunia pendidikan tanpa harus membedakan status sosial. Dengan begitu kualitas pendidikan di Indonesia dapat menjadi lebih baik lagi.


Sumber: Santrock, John W. 2011. Psikologi Pendidikan. Edisi kedua. Jakarta: Kencana


Jumat, 09 Maret 2012

Media Pembelajaran

            Guru maupun dosen tidaklah dapahami sebagai satu-satunya media belajar, tetapi ia pun harus mampu merencana dan mencipta sumber-sumber belajar lainnya sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif. Sumber-sumber belajar lain inilah yang disebut sebagai penyalur atau penghubung pesan (materi) ajar yang diajarkan secara terencana oleh para pendidik, yang biasanya dikenal sebagai “Media Pembelajaran”.
            Kata “media” sebenarnya bukanlah kata asing bagi kita, tetapi pemahaman banyak orang terhadap kata tersebut dapat berbeda-beda. Jadi apa sebenarnya arti kata “media” tersebut? Kata “media” berasal dari bahasa latin, yakni meidius yang secara harfiah berarti “tengah”, ”pengantar” atau ”perantara”. Dan media pembelajaran bisa diartikan sebagai “Segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga  tercipta lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif.”
            Definisi ini sejalan dengan definisi yang diantaranya disampaikan oleh Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan di Amerika, yakni sebagai bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi.
            Berdasarkan definisi-definisi tersebut, tampak bahwa studi tentang media dalam konteks pembelajaran ini, bukanlah studi yang menyangkut tentang teknis dan mekanis. Karena pembelajaran bagian dari ilmu pendidikan dan ia adalah ilmu pengetahuan sosial. Psikologis dan pedagogiknya saja, yaitu kaitannya dengan unsur-unsur lainnya dalam keseluruhan unsur pembelajaran. Dengan demikian, tujuan pemanfaatan media dalam proses pembelajaran adalah untuk mengefektifkan dan mengefisienkan proses pembelajaran itu sendiri.
JENIS-JENIS MEDIA:
A. Media Visual
1.    Media yang tidak diproyeksikan
1)      Media realia adalah benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media realia ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Misal untuk mempelajari keanekaragaman makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ tanaman.
2)      Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia. Misal untuk mempelajari sistem gerak, pencernaan, pernafasan, peredaran darah, sistem ekskresi, dan syaraf pada hewan. 
3)      Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Jenis-jenis media grafis adalah:
a.       gambar / foto: paling umum digunakan
b.      sketsa: gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan verbalisme, dan memperjelas pesan.
c.       diagram / skema: gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol untuk menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar. Misal untuk mempelajari organisasi kehidupan dari sel samapai organisme.
d.      bagan / chart : menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal.
e.       grafik: gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif. Misal untuk mempelajari pertumbuhan.

2.   Media Proyeksi
1)      Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak (Overhead transparancy / OHT) dan perangkat keras (Overhead projector / OHP). Teknik pembuatan media transparansi, yaitu:
-  Mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu
-  Membuat sendiri secara manual
2)   Film bingkai / slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah beaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan proyektor slide.

B. Media Audio
1)      Radio
Radio merupakan perlengkapan elektronik yang dapat digunakan untuk mendengarkan berita yang bagus dan aktual, dapat mengetahui beberapa kejadian dan peristiwa-peristiwa penting dan baru, masalah-masalah kehidupan dan sebagainya. Radio dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang cukup efektif.
2)      Kaset-audio
Yang dibahas disini khusus kaset audio yang sering digunakan di sekolah. Keuntungannya adalah merupakan media yang ekonomis karena biaya pengadaan dan perawatan murah.

C. Media Audio-Visual
1)        Media video
Merupakan salah satu jenis media audio visual, selain film. Yang banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran, biasa dikemas dalam bentuk VCD.
2)        Media komputer
Media ini memiliki semua kelebihan yang dimiliki oleh media lain. Selain mampu menampilkan teks, gerak, suara dan gambar, komputer juga dapat digunakan secara interaktif, bukan hanya searah. Bahkan komputer yang disambung dengan internet dapat memberikan keleluasaan belajar menembus ruang dan waktu serta menyediakan sumber belajar yang hampir tanpa batas.

Sumber: Munadi, Yudhi. 2010. Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru. Cetakan ketiga. Jakarta: Gaung Persada (GP) Press.

Psikologi Pendidikan

         Seorang ahli yang menganggap psikologi pendidikan sebagai subdisiplin psikologi terapan (applicable) adalah Arthur S. reber (1988) seorang guru besar psikologi pada Brooklyn College, University of New York City, University of British Columbia Canada, dan juga university of Innsbruck Austria. Dalam pandangannya, psikologi pendidikan adalah sebuah disiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut:
1.      Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas
2.      Pengembangan dan pembaruan kurikulum
3.      Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan
4.      Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif
5.      Penyelenggaraan pendidikan keguruan.

Secara lebih sederhana dan praktis, Barlow (1985) menedifinisikan psikologi pendidikan sebagai: “a body of knowledge grounded in psychological research which provides a repertoire of resources to aid in functioning more effectively in teaching learning process.” Psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu anak melaksanakan tugas sebagai seorang guru dalam proses belajar mengajar secara lebih efektif. Tekanan definisi ini secara lahiriyah hanya berkisar sekitar proses interaksi antarguru-siswa dalam kelas.

Sementara itu, Tardif (1987) mendefinisikan psikologi pendidikan semata-mata sebagai ilmu terapan. Baginya psikologi pendidikan adalah: “sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia dalam usaha-usaha kependidikan”. Adapun ruang lingkupnya meliputi:
1.      Context of teaching and learning (situasi dan tempat yang berhubungan dengan belajar dan mengajar)
2.      Process of teaching and learning (tahapan-tahapan dalam mengajar dan belajar)
3.      Outcomes of teaching and learning (hasil-hasil yang dicapai dari mengajar dan belajar)

Selanjutnya, Witherington dalam bukunya Educational psychology memberikan definisi pendidikan sebagai: “A systematic study of process and factor involved in the educational of human being is called educational psychology.” Yakni bahwa psikologi pendidikan adalah studi sistematis tentang proses-proses dan factor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia.

Istilah “proses” dalam definisi diatas sesungguhnya amat sulit dipahami substansinya, karena sifatnya yang abstrak. Oleh sebab itu, menurut sebagian ahli, definisi yang langsung menyebutkan penyelidikan terhadap proses belajar atau mengajar akan lebih pas diganti dengan “manusia” yang belajar atau mengajar. Alasanya, apabila Anda sedang mempelajari atau memantau seorang siswa yang sedang berpikir atau memecahkan masalah, maka yang Anda pelajari sesungguhnya adalah siswa tersebut, bukan proses, karena proses berpikir tidak mungkin dapat Anda pelajari, lebih-lebih jika secara langsung. Anda hanya bisa menarik kesimpulan bahwa siswa tersebut sedang berpikir (memecahkan soal-soal) dan fenomena (gejala-gejala) yang tampak pada diri siswa yang Anda pantau itu.

Psikologi pendidikan pada dasarnya mencurahkan perhatian pada perbuatan atau tindak tanduk orang-orang yang belajar dan mengajar. Oleh karenanya, psikologi pendidikan mempunyai dua objek riset dan kajian:
1.      Siswa, yaitu orang yang sedang belajar, termasuk pendekatan strategi, faktor yang mempengaruhi dan prestasi yang dicapai
2.      Guru, yaitu orang yang berkewajiban atau bertugas mengajar, termasuk metode, model, strategi, dan lain lain yang berhubungan dengan aktivitas penyajian materi pengajaran.

Apakah psikologi pendidikan termasuk cabang psikologi yang independen, baik secara teoritis maupun praktis? Memang tidak dapat dipungkiri bahwa psikologi pendidikan dianggap subdisiplin ilmu psikologi yang bersifat praktis, bukan teoritis. Psikologi-psikologi lain yang dianggap sebagai psikologi terapan antara lain psikologi industri dan psikologi klinis. Namun, kedua cabang psikologi ini dipandang telah memiliki konsep-konsep, teori-teori dan metode-metode sendiri sehingga tidak lagi dianggap sebagai subdisiplin tetapi disiplin (cabang ilmu) yang mandiri.

Witherington menegaskan pendiriannya bahwa psikologi pendidikan itu bukan hanya sebagai psikologi terapan yang seolah-olah tidak punya hak hidup sendiri. Alasan yang dikemukakannya adalah psikologi pendidikan sebagai sebuah sains telah memiliki sendiri hal-hal berikut:
1.      Susunan prinsip-prinsip dan kebenaran-kebenaran dasar yang tersendiri
2.      Faktor-faktor yang bersifat objektif dan dapat diperiksa sendiri kebenarannya
3.      Teknik-teknik khusus yang berguna untuk melakukan penyelidikan dan risetnya sendiri.

Perdebatan mengenai apakah psikologi pendidikan bersifat praktis, teoritis atau praktis-teoritis, sebenarnya tidak begitu penting. Psikologi pendidikan pada dasarnya adalah sebuah disiplin psikologi (atau boleh juga disebut subdisiplin psikolgi) yang menyelidiki masalah-masalah psikologis yang terjadi dalam dunia pendidikan. Lalu, hasil-hasil penyelidikan ini dirumuskan dalam bentuk konsep, teori dan metode yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan proses belajar-mengajar. Alhasil, psikologi pendidikan digunakan sebagai pedoman praktis disamping sebagai kajian teoritis. Karena psikologi pendidikan mengkhususkan diri pada penmahaman tentang proses belajar dan mengajar dalam lingkungan pendidikan.
Sumber: 

Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.  Cetakan kesembilan. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.
Santrock, John. W. 2010. Psikologi Pendidikan. Edisi kedua, Jakarta: Kencana

Senin, 05 Maret 2012

Another Birthday Story (Suhu)

Baiklah, karena kemarin saya udah pos tentang ulang tahun saya sendiri (narsis memang), kali ini juga tentang ulang tahun. Ulang tahun siapa? Hmm, perempuan satu ini bernama Nurul Fadilah Siregar. Tapi sering dipanggil Indah, dari mana asal nama itu juga saya ga tau, tidak ada unsur nama 'Indah' di Nurul Fadillah Siregar. 


Seiring dengan berjalannya waktu, kami sepakat untuk melabelkannya dengan nama baru: SUHU. Bukan, ini bukan suhu yang kita kenal sebagai temparatur. Suhu disini maksudnya 'ahli'. Dijuluki seperti itu karena dia suka dan sering memakai jilbab yang diputer-puter. Apasih itu namanya? Pokoknya gitu deh, jilbab zaman sekarang :D
Dan dia juga ahli dalam mengkreasikannya, jadilah Nurul Fadillah Siregar alias Indah dipanggil Suhu. Daaan, daripada semakin curcol, ini dia foto-foto yang sempat diabadikan dalam perayaan ulang tahunnya (12 Desember 2011):

kuenya enak bener, apalagi pas dimakan masih dingin, baru dikeluarin dari kulkas. yuuumm :9

masih nyanyi, padahal udah laper -___-

rebutan, seriously..

Nah, kalau yang foto yang ini, abis coret-coretan pake krim kue. seperti yang bisa dilihat, saya TIDAK ada disana, alias melarikan diri. hahaha

"Tapi tidak peduli sejauh apapun kamu berlari, mereka akan tetap mendapatkanmu."Quote of the day, Vika, 18 thn.
True story.
Bener aja, sampe kejar-kejaran cuma gara-gara mau nyolekin krim ke wajahku. Alhasil beneran kena, dan BANYAK!

Another Birthday story from us. Happy reading and have a nice day everybody! ^.^

Minggu, 04 Maret 2012

My awesome 18th Birthday

Sedikit ngubrek-ngubrek file, ternyata nemu foto-foto ulang tahun saya yang ke 18. Yang paling saya inget waktu itu adalah jamannya UTS, hari senin, setelah ujian fisafat. Itung-itung berbagi keceriaan (meskipun udah telat, gapapa deh) ini dia ^.^
These pics were taken at college:
I love this cake sooo much, chocolate and sweet!


mulai narsis -__-



nah, ini bagian suap-suapannya ^_^

Dinda

Suhu (Indah)

Ade

Dinda (Darmi)

dan Bibah

dan ini bagian coret-coretannya -.-"

Sebelum kejutan ini saya juga sempat dikerjain sama mereka, well done, WEEELL DOOONE! -_____-
But, thank you sooo much!!. Tidak terpikir sebelumnya bakal dapet kejutan seperti ini. You are awesome! So glad for having you all ^.^

Sabtu, 03 Maret 2012

Mahasiswa dan Jurusan

         
         Penggunaan kata ‘Maha’ pada Mahasiswa menunjukkan adanya perbedaan tingkat dalam menempuh sebuah jenjang pendidikan. Penggunaan kata ‘Maha’ pun sudah selayaknya ditanggapi secara positif. Mahasiswa dipandang sebagai sekolompok orang yang sudah dewasa dan tahu arah hidupnya, mengenal dirinya yang sebenarnya serta memiliki visi dan tujuan.
Hidup di PTN bukanlah hal yang sama ketika sesorang masih berada di jenjang sekolah, kehidupan bisa berubah menjadi 180 derajat. Ketika di sekolah seorang siswa masih diberikan pengajaran secara utuh oleh gurunya, tapi kemudian hal ini terlihat berbeda ketika seseorang mulai menjalani perannya sebagai mahasiswa. Mahasiswa haruslah gencar mencari informasi tentang mata kuliah, tugas, beasiswa, dsb. dengan ataupun tanpa bimbingan dari dosen.
            Nah, lalu apa hubungan judul diatas dengan kehidupan mahasiswa di hari esok? Jelas akan ada hubungan yang sangat besar antara jurusan yang dipilih oleh mahasiswa dengan masa depannya. Ini bukanlah tentang jurusan apa yang paling baik atau jurusan yang paling banyak dicari lulusannya oleh instansi atau lembaga. Karena jika berbicara tentang hal itu, saya yakin setiap jurusan pasti memiliki kontribusi yang sangat penting untuk kemajuan negara ini. Tapi apakah jurusan yang dipilih tersebut sudah benar-benar ‘pas’ dan cocok dengan si mahasiswa? Baiknya hal ini dijawab oleh pribadi masing-masing.
          Ini bukanlah persoalan remeh-temeh. Banyak aspek yang harus dilihat ketika seseorang akan memilih jurusan, faktor minat dan bakat akan sangat menentukan. Jika seorang mahasiswa memilih jurusan berdasarkan minatnya, ini tidak menjamin jurusan tersebut akan cocok dengan si mahasiswa. Karena jika hanya didasarkan pada minat, tetapi bakat yang ada pada mahasiswa kurang memadai, ini bisa jadi sebuah masalah. Misalnya, seorang mahasiswa ingin sekali menjadi seorang arsitek dan berkeyakinan jika nanti ia masuk ke PTN, ia akan memilih jurusan arsitektur. Tetapi kemampuan berimajinasi, memahami seni, menganalisis -atau kemampuan lain yang dianggap dibutuhkan oleh seorang arsitek- kurang memadai, masalah bisa terjadi selama dia menempuh pendidikan di jurusan arsitektur tersebut. Banyak mahasiswa yang terjebak dengan persoalan seperti ini, hingga mengharuskannya untuk pindah jurusan dan ikut ujian masuk PTN lagi tahun depan.
Tetapi kita juga tidak bisa memandang sebelah mata kekuatan dari minat seseorang. Karena saat ini masih dapat kita jumpai orang-orang yang dulunya nyasar di jurusannya, sekarang mampu membuktikan bahwa ia bisa sukses disana. Ingatlah pepatah, “Dimana ada kemauan disitu ada jalan.”
            Faktor selanjutnya yang juga sangat mempengaruhi hari esok dan masa depan seorang mahasiswa adalah bakat. Faktor ini sangat menganjurkan si mahasiswa agar mampu melihat ke dalam dirinya mengenai siapa dia sebenarnya, bakat apa yang dia miliki, serta mimpi dan visi apa yang akan dicapai. Jika seorang mahasiswa sudah mampu mengenali dirinya secara baik, maka persoalan memilih jurusan di sebuah PTN bukanlah hal yang sulit. Apalagi jika hal itu didorong dengan minatnya terhadap jurusan yang dimaksud. Lalu apa yang akan terjadi kepada mahasiswa atau bahkan calon mahasiswa yang belum mengenal dirinya secara utuh? Hal itu masih dapat dimaklumi, masa-masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Dan pencarian jati diri itu sendiri membutuhkan waktu yang berbeda untuk setiap individu.
        Tetapi di era globalisasi seperti saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan aplikasinya sudah sangat cepat. Dapat terlihat di bidang Ilmu Psikologi. Calon mahasiswa bisa menggunakan jasa Psikolog yang dianggap mampu untuk membantu dan membimbing mahasiswa/calon mahasiswa untuk menemukan jurusan terbaik bagi dirinya. Ataupun jika hal itu tidak memungkinkan, ada psikotes yang masih bisa ditempuh. Banyak Biro Psikologi yang menyediakan fasilitas ini. Bahkan beberapa sekolah juga sudah bekerja sama dengan Biro Psikologi untuk memudahkan siswanya menjalani Psikotes.
            Selain faktor minat dan bakat, ada beberapa faktor lain yang juga ikut mempengaruhi pemilihan jurusan di kalangan mahasiswa. Salah satunya adalah faktor orang tua.
Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan anak. Peran orang tua juga masih sangat terlihat ketika seorang anak akan menentukan jurusan di sebuah PTN. Orang tua dengan tipe tertentu, bisa saja memaksakan kehendaknya kepada si anak untuk memilih jurusan yang diyakininya cocok. Padahal jika ditinjau lebih lanjut, ada kemungkinan si anak tidak cocok dengan jurusan yang dipilihkan oleh orang tuanya. Tapi tidak semua orang tua bertindak seperti itu, sebagian besar orang tua memberikan hak penuh kepada anak untuk menentukan yang akan diambil dan mendukung keputusan yang sudah dibuat oleh si anak. Dan akan lebih baik jika orang tua mampu melihat minat dan bakat anak yang sudah berkembang sejak kecil, kemudian membantu untuk mewujudkannya.
Ini hanyalah beberapa faktor yang saya anggap penting, tidak menutup kemungkinan adanya faktor-faktor lain, baik internal maupun eksternal. Yang paling penting adalah kemampuan untuk mengenali diri sendiri dan kemauan untuk menjadi yang terbaik yang nantinya akan mampu membawa mahasiswa sebagai "Agent of change" menuju titik kesuksesannya.